AAS · dreams · LPDP · motivational · scholarships

Lika-liku Scholarship Hunters: Berjodoh dengan Beasiswa LPDP, AAS atau Fulbright?

Baiklah. Sesuai janji saya pada teman – teman saya yang sering bertanya, akhirnya keluar juga tulisan ini. Tulisan ini lebih bersifat pengalaman moril yg saya petik dari serangkaian pengejaran beasiswa selama kurang lebih 3 tahun.

Semua bermula dari mimpi. Saya bercita-cita untuk sekolah ke luar negri sebenarnya sejak kelas 6 SD. Keinginan untuk sekolah di luar Indonesia, kembali terpantik saat hendak lulus SMA. Sempat terpikir untuk melanjutkan ke universitas swasta di Malaysia atau Singapore untuk S1, namun menyadari PTN Indonesia jauh lebih unggul dan lebih murah, dan sulitnya menemukan beasiswa S1 ke luar negri, maka saya pun dengan yakin bertekad: tuntut higher education di negeri sendiri dulu baru di negeri orang.

Singkat cerita, saya mulai melirik info beasiswa sejak 2014. Saat itu sedang kuliah semester 5 di salah satu PTN di Indonesia. Beasiswa yang sangat menarik perhatian saya saat itu adalah AAS dan Fulbright. Saya pun mulai mempersiapkan diri dengan mulai membeli dan meminjam buku buku latihan TOEFL ITP dan IBT. Di tahun 2015, saya semakin mantap dan bersemangat dan mentargetkan diri untuk lulus 3.5 tahun, agar bisa lebih fokus dalam mengejar beasiswa. Tekad ini begitu meluap sehingga setiap info yang saya miliki seringkali saya share ke sahabat saya, yang ternyata memiliki minat study abroad pula, namun belum sebegitu ambisius seperti saya.

Ketika galau dan bosan mengerjakan skripsi, berbagai tulisan para blogger yang adalah Scholarship Hunters (SH) menjadi hiburan saya. Sebagai SH, saya begitu mempersiapkan beasiswa dengan sangat detail saat itu. Sehingga semua jenis beasiswa masuk dalam list. Bahkan, kalau ada mata kuliah “Scholarship Pursuing” saya pasti dapat A dan kalau perlu jadi asdos nya. Ya gimana ya, wong saya lebih hapal deadline pendaftaran beasiswa serta plus minus nya dibanding patofisiologi penyakit atau jumlah kalori makanan.

Puji TUHAN, ketika target lulus S1 sesuai waktu yg diidamkan telah tercapai, saya pun melanjutkan misi pencarian beasiswa dengan lebih sungguh. Sejujurnya GPA saya bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan, sangatlah biasa, sehingga sembari mencari beasiswa saya juga bergerilya untuk mengikuti berbagai konferensi, magang, kegiatan volunteering dan perlombaan agar dapat mendongkrak resume yang seadanya. April 2015, ternyata, saya tidak dapat mengikuti beasiswa Fulbright 2015 karena saat itu belum wisuda sehingga belum memiliki ijazah. Deadline yang sangat mepet, membuat saya juga tidak bisa menyerahkan SKL (Surat Keterangan Lulus) sebagai pengganti ijazah terkait masalah birokrasi. Mengikhlaskan Fulbright, akhirnya saya memantapkan diri mengikuti LPDP. Pada tahun 2014 hingga awal 2015, beasiswa ini belum se-famous sekarang. Saat itu, pamor LPDP di mata SH dalam posisi –> Belum banyak yang tahu, tidak sulit mendapatkannya terlebih jika Anda berasal dari jurusan terkait STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematic), Medical & Health, Agriculture.

Bahkan salah seorang kolega yang saya puja puji karena mendapatkan LPDP di tahun 2014 mengatakan, “Yah.. tapi saya ga gitu bangga sih Grace.. Ini mah beasiswa kacang goreng, gampang kok dapetinnya, ga se elit Fulbright dan AAS lah…” Mendengar hal itu, di satu sisi saya senang karena merasa memiliki peluang besar. Di sisi lain, saya amatlah ‘gemas’ dengan kolega saya itu, ngomong nya enak bener, kayak ga ada tenggorokan. LPDP dibilang kacang goreng… (sakti juga ini orang)

Mungkin, gara-gara orang macam dia yang entah kurang bersyukur atau menganggap remeh atau ga sadar kalau dia memang layak, maka LPDP semakin menunjukkan eksistensinya alias makin sulit tergapai alias makin jual mahal alias makin improve (dimana ini adalah prognosis yang sangat baik menurut saya), terkhusus sejak tahun 2016 hingga 2017. Ya. Saya adalah saksi perubahan LPDP dari masa ke masa. Setelah 3 kali malang melintang di pengejaran beasiswa yang digagas oleh Menteri Keuangan idolaQ, Ibu Sri Mulyani.

Berikut kronologinya :

PERCOBAAN PERTAMA

  1. Waktu Pendaftaran : Periode Oktober (Batch 4 2015)

Sebenarnya saat itu sangat galau antara memilih mendaftar di Batch 4 atau Batch 3 2015 (Juli) mengingat saya sudah lulus S1 dan memiliki ijazah resmi. Akhirnya, karena saya ingin mengharumkan CV/Resume terlebih dahulu, saya menundanya dan sempat mengikuti program pertukaran pemuda yang diadakan oleh Kemenpora.

  1. Universitas Tujuan : Tufts University, AS
  1. Hasil : GAGAL pada Seleksi Administrasi

Sebagai newbie dalam dunia pengejaran beasiswa, saat itu saya sangat amsyong alias shock berat. “Gagal dalam administrasi? Bukankah seseorang pernah mengatakan gagal dalam seleksi administrasi adalah mustahil kecuali jika orang tersebut memang ga niat mendaftar beasiswa?! TIDAK. TIDAK. Saya sangat prepare dalam beasiswa. Sejak 2014 sudah mengatur strategi terperinci. Ini kenapa?” Tanyaku dalam hati.

Usut punya usut, ternyata kegagalan ini akibat sertifikat TOEFL ITP (sementara) yang saya submit, yang dikeluarkan oleh lembaga tempat saya tes (ELTI Gramedia) Jogjakarta, dianggap tidak resmi oleh LPDP. Jadi memang naas saat itu, dimana ETS (English Testing Service) yang berkantor pusat di Jakarta terlambat menerbitkan sertifikat TOEFL dari jadwal seharusnya. Meski demikian, score sudah keluar. Nasib deadliner, maka saya terpaksa upload sertifikat sementara yang saya minta dibuatkan oleh ELTI sebagai kompensasi keterlambatan itu. Hal – hal teknis semacam itu memang tidak dapat dihindari. Saya pun tidak berhak menyalahkan salah satu pihak. Sembari waktu berjalan, selain move on, saya memetik beberapa pelajaran, salah satunya: DO NOT PROCRASTINATE!

Saran saya, mulailah sedini mungkin mempersiapkan persyaratan kemampuan bahasa seperti TOEFL ITP/IBT atau IELTS atau TOPIK (Korea) atau Goethe (Germany). Lebih baik lagi jika Anda mengambil tes TOEFL atau IELTS sebelum pendaftaran beasiswa yang Anda incar dibuka sehingga hal-hal tak terduga bisa dicegah dari jauh hari.

PERCOBAAN KEDUA

  1. Waktu Pendaftaran : Periode Awal Tahun 2016 (Batch 1 2016)
  1. Tujuan Universitas : University of Glasgow (UofG), UK

Ada yang berbeda memang di percobaan kedua. Saya yang dari dulu merasa terpanggil untuk menuntut ilmu di negeri Paman Sam, tiba tiba banting setir ke UK. Alasannya beragam. Pertama, karena saya merasa tidak sanggup untuk melalui tes GRE (Graduate Report Examination) sebagai salah satu requirements yang dibutuhkan di jurusan saya. Bagi yang belum tahu, GRE adalah semacam tes TPA versi USA. Tes ini seperti momok dan dianggap sangat susah. Namun, tidak semua jurusan membutuhkan GRE/GMAT. Mengenai GRE/GMAT akan saya jelaskan di kisah lainnya.

Kedua, saya berpikir bahwa mungkin TUHAN tidak merestui ke Amrik dan mendapatkan LoA ke UK sepertinya lebih ‘mudah’. Singkat cerita, saya mendapatkan 2 Letter of Admission (LoA) (semacam surat penerimaan) dari UofG dan UCL (University College London). Kisah perjuangan mendapatkan secarik demi secarik Letter of Admission saya jelaskan disini.

  1. Hasil : GAGAL seleksi Wawancara

Sejak saat itu, saya vacuum dari dunia perburuan beasiswa selama beberapa bulan terkait kondisi kesehatan dan juga karena diterima kerja di salah satu RS Swasta di Kalimantan Timur. (Yang membuat makin sedih saat baca email dari LPDP adalah tulisan GAGAL nya super gede, pakai ARIAL 32 sepertinya, dan tak lupa di bold. Untung tinta nya masih hitam. Fiuh!)

***

Bicara soal kodisi kesehatan, hal ini juga cukup menyita perhatian dan batin saya. Bagaimana tidak, sembari mempersiapkan beasiswa S2, sebenarnya saya juga cukup sering mengunjungi IGD (Instalasi Gawat Darurat) sebagai pasien, bukan lagi sebagai mahasiswa yang sedang belajar di rumah sakit. Puncaknya, saat December, 10 2015, tepat 2 hari sebelum menjalani TES IELTS di Makassar. Saya berakhir di ruang rawat inap RS Swasta di kota asing yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya memilih IELTS di Makassar pun karena tanggal tes IELTS di Surabaya tidak sesuai dengan jadwal kerja saya sebagai asisten peneliti/dosen saat itu.

Di hari yang sama, pengumuman LPDP Batch 4 2015 pun keluar. Seandainya, penerbitan sertifikat TOEFL saya tidak terlambat dan saya bisa mengikuti seleksi wawancara, mungkin saat itu saya juga ikut deg degan. Detik – detik pengumuman, sahabat saya, Naomi, mengirim pesan melalui LINE mengatakan bahwa dia sangat gundah dan tidak yakin akan lolos. Entah kenapa, saat itu saya punya firasat dia pasti lolos. Dan dugaan saya benar. Praise the LORD!

Di saat yang hampir bersamaan, setelah menjalani CT Scan, dokter yang in-charge di IGD plus spesialis bedah disana, juga memberikan pengumuman yang tak kalah mengejutkan bagi saya. Mereka menyatakan saya mengidap teratoma, tumor dari sel germinal yang abnormal. Saya pun cuma ngangguk-ngangguk sembari mempelajari artikel jurnal tentang teratoma. Berlagak tabah padahal….

Untungnya, keluarga dari pihak Ayah saya, yang belum pernah saya temui sebelumnya, turut menemani dan mengurus segala proses administrasi, sehingga saya ga ngenes – ngenes banget. Agak pathetic sepertinya bila di rumah sakit dalam keadaan all alone, penyakitan, jomblo, ga lolos beasiswa, terus besok lusanya kudu tes IELTS. Duh! Jackpot!

Setelah saya minta dengan halus seluruh keluarga besar untuk pulang ke rumah mereka masing-masing, malem itu sekitar pukul 11, saya hanya bisa menangis dan berdoa sembari menatap laut dan bintang dari jendela (thank the LORD, dapat view yang bagus, menghadap pantai Losari). Sempat mempertanyakan kehadiran TUHAN juga saat itu. Suasana menjadi sangat melankolis. Flashback, saya teringat Naomi. Saya dan Naomi adalah partner in many aspects, dimana kami juga selalu membawa mimpi-mimpi dan rencana kami dalam doa. Terekam jelas, di pergantian tahun 2014 menuju 2015, sepulang dari ibadah tutup tahun di gereja, Desember 31 2014, pukul 23.30 WIB, di kamar kost saya di Jogjakarta, saya dan Naomi berdoa bersama, mengutarakan negara tujuan dan rencana kami masing-masing.

Hampir setahun kemudian, di saat yang bersamaan, Desember 10 2015, saya dan Naomi sama sama menerima berita kejutan yang kontennya sangat berkebalikan. NaomI mungkin juga menangis malam itu seperti saya. Tapi tangisnya adalah tangisan sukacita. Kemudian, saya pun tertidur di bawah pengaruh analgesik yang amat sangat membantu saya menahan nyeri hebat di bagian kanan bawah abdomen.

PERCOBAAN KETIGA (AAS)

Singkat cerita saya menjalani kehidupan di kota asing lainnya, sebagai seorang Ahli Gizi di RS Swasta, sambil membangun kembali puing-puing semangat pengejaran beasiswa. Di bulan April, saya iseng (ini beneran iseng) mencoba peruntungan di AAS (Australia Award Scholarships), beasiswa yang sejak dulu saya kagumi karena ke-generous-annya (baca: funding berlimpah). Lambat laun, kata gagal (ternyata) bukan lagi perkara buat saya.

Terbukti, saat menerima email dari pihak AAS yang menyatakan bahwa saya belum berhasil, saya justru merespon dengan tertawa (bitter laughter), kemudian menghubungi salah satu kawan, sesama SH, dan kembali kami tertawa bersama sebagai kaum tertolak AAS. Mungkin, karena sedari awal saya sudah nothing to lose dan mendaftar dengan keyakinan untuk ‘menghabiskan jatah gagal’, sehingga kegagalan itu justru membawa saya merasa semakin dekat dengan kelulusan beasiswa.

Juni 2016 saya akhirnya menjalani operasi pengangkatan tumor yang ternyata semakin parah. Ini juga pelajaran buat pembaca yang budiman, kalau disarankan oleh dokter untuk melakukan operasi dengan berbagai pertimbangan beliau, alangkah baiknya untuk menyetujuinya. Jangan seperti saya! Pandai berkilah sampai parah baru menyerah. Terbangun dari TIVA (bius total) membuat saya bersyukur dan sadar bahwa segala sesuatu terjadi untuk mendatang kebaikan bagi saya. Terlepas dari segala ambisi dan mimpi setinggi langit, kesehatan adalah hal paling hakiki yang harus disyukuri. Percuma kalau lulus beasiswa, diterima di kampus ivy league pula, namun ternyata sakit-sakitan atau bahkan meninggal.

Bahkan Mama saya sempat berkata, sesaat ketika saya dipindahkan dari ruang operasi menuju ke kamar perawatan, “Mungkin TUHAN ga izinin lolos beasiswa, supaya kamu bisa di operasi dulu dan sehat 100% saat kuliah nanti.” Bijak sekali Ibu saya!! Sayangnya, efek anestesi membuat saya masih agak amnesia, “Saya dimana……”

PERCOBAAN KEEMPAT

Juli 2016, selagi melalui masa recovery pasca operasi, entah karena impulsive atau bukan, saya masuk dalam percobaan keempat pengejaran beasiswa. Dengan berdoa, bertanya kepada TUHAN, merelakan ambisi pribadi, menanti konfirmasi demi konfirmasi yang tampaknya supranatural, saya akhirnya kembali ‘berperang’. Kali ini lebih gerilya karena tidak ada yang tahu kecuali TUHAN dan kedua orangtua saya serta CEO (Act) yang memberi izin cuti.

  1. Waktu Pendaftaran : Juli 2016 (Batch 3 2016)
  2. Universitas Tujuan : Tufts University, AS

Yup! Saya kembali kepada mimpi saya yang sempat tertunda. United States of America. Dalam keadaan completely nothing to lose dan berserah sepenuhnya pada TUHAN saya memperbaiki essay-essay saya yang pernah saya untai dua tahun lalu dan makin mantap dengan negara USA. Kenapa harus USA? Jawabannya bisa dibaca disini.

  1. Hasil : LULUS seleksi Wawancara

Singkat cerita, saya mengikuti PK (Pra Keberangkatan) pada Oktober-November 2016 di Depok. Bertemu dengan teman- teman seperjuangan sepenanggungan. Bertemu dengan orang-orang hebat dan rendah hati yang akan saya ceritakan di kisah ini.

***

Pada intinya, mendapatkan beasiswa sebenarnya bukan soal seberapa bagusnya CV dan tingginya nilai-nilai akademis. Saya sempat terkecoh dengan berusaha mengikuti berbagai kegiatan untuk mendandani CV. What a shallow motivation! Woe to me!

Lebih dari itu, sponsorship manapun terkhusus mereka yang menawarkan fully funding, akan mencari karakter yang layak dibiayai milyaran rupiah. Kegagalan-kegagalan mendapakan beasiswa, sakit penyakit dan pengalaman di dunia kerja mengajarkan saya untuk mengakhiri kesombongan dan ambisi pribadi, kemudian belajar lebih mementingkan kepentingan orang banyak. Mulia sekali kedengarannya ya, tapi itu benar.

Di percobaan pertama, dengan pede nya, saya optimis lolos karena mengira LPDP akan ‘senang’ dengan background saya yang termasuk dalam daftar jurusan prioritas. Duh! (Malu saya kalau flashback, padahal tidak ada yang bisa dibanggakan). Di percobaan kedua, otak bisnis bermain. Mendapatkan LoA dari UCL membuat saya tergiur dengan tawaran incentive yang diberikan oleh LPDP. FYI, bagi yang belum tahu, beberapa top universitas dunia dan bidang keilmuan termasuk bidang Keilmuan Kedokteran Kesehatan di UCL, masuk dalam daftar penerima incentive sehingga Awardee yang bersekolah di sana, kabarnya, akan mendapatkan incentive senilai 50 juta IDR. Belum lagi gelar Top 10 Universities in the World yang dipegang UCL serta setahun masa studi sudah bisa membuat seseorang mengantongi gelar MSc, membuat saya tentu tergiur. Balik ke Indonesia membawa gelar, pengalaman, relasi, pundi-pundi dan foto-foto asyik di depan Big Ben, siapa yang tidak mau? Dan begitulah. Niat egois ini ternyata memang tidak disetujui oleh Sang Khalik.

Beberapa bulan vacuum, menjalani berbagai tindakan medis dan bekerja di RS, membuat saya akhirnya berkontemplasi lebih jauh tentang mengapa negara rela mengeluarkan milyaran rupiah (yang bersumber dari rakyat) untuk diberikan cuma-cuma (tidak ada kontrak mengikat) kepada para scholars. Akhirnya saya mengerti dan bersyukur ditolak LPDP pada seleksi wawancara di Batch 1 2016. Sebab motivasi saya memang belum benar di kala itu.

Sudah sepatutnya LPDP begitu skeptis pada semua pendaftar yang katanya ingin membangun negeri. Pada seleksi wawancara yang kedua kali, yaitu Batch 3 2016, saya merasakan perbedaannya. Beda memang hasilnya ketika seseorang datang membawa niat tulus dan misi yang mantap dengan seseorang yang membawa ambisi pribadi dan misi yang ngambang. Di tulisan saya lainnya akan saya jelaskan mengenai Pengalaman Mengikuti 2 (Dua) Kali Seleksi Wawancara LPDP.

Pada percobaan ketiga dengan keyakinan untuk menembus tembok universitas Amerika beserta syarat GRE/GMAT nya yang menakutkan, saya pun maju dengan tanpa beban. Keinginan untuk belajar lebih dalam tentang kebijakan pangan di negara maju dari sudut pandang seorang nutritionist, membuat saya merasa terpanggil untuk harus kembali ke Indonesia dan mantap untuk mencoba LPDP sekali lagi. Dengan pertimbangan bahwa LPDP adalah beasiswa yang paling tepat untuk misi saya. Mengapa? Sebab setiap beasiswa memiliki visi dan misinya masing-masing. Maka dari itu, penting untuk setiap scholarship hunters mengenali diri dan motivasi mereka terlebih dahulu sebelum memulai mengejar beasiswa. Bisa jadi ditolaknya seseorang bukan karena dia tidak layak melainkan simply because dia BUKAN orang yang dicari oleh si pemberi dana.

Saya belajar sebuah proses panjang. Bermula dari mimpi seorang anak kecil. Pelan-pelan dipersiapkan. Ketika tiba saatnya eksekusi, jalan berbatu dan jatuh bangun yang dilalui ternyata cukup menyakitkan. Meski sedari awal saya sadar bahwa gagal dalam beasiswa sangat lumrah terjadi, saya tidak menyangka bahwa prosesnya sungguh memakan waktu, menguras kesabaran, menghabiskan uang dan menghajar mental apalagi ketika menoleh kanan kiri, orang lain kelihatannya jalannya begitu mulus (padahal belum tentu).

Saya pernah bertanya kepada TUHAN, mengapa saya harus memiliki mimpi seperti ini. Mengapa tidak langsung to the point bermimpi kerja di perusahaan/institusi bonafide lalu meniti karir disana? Bukannya earning money, pengejaran beasiswa justru tampak wasting money. (Pejuang beasiswa luar negeri yang tidak sanggup self funding seperti saya pasti setuju). Namun, sebuah kutipan dari Joel Osteen berkata “There are dreams and desires that GOD has placed in your heart, they are part of your divine destiny.” Memilih setuju, saya pun bersyukur dengan mimpi yang Tuhan sudah letakkan.

“And the other way to know that your dreams are from GOD is that they are so big that you can’t accomplish them on your own.” Ini juga saya setuju. Moment dimana kita menyadari bahwa kita tidak sanggup menggapainya tanpa bantuan TUHAN-yang-kita-akui-kekuatannya-jauh-melampaui-kekuatan-kita adalah moment yang epic bagi saya. Di situ saya belajar tentang merendahkan diri. Be humble.

Semakin seseorang merasa tidak layak dan tidak mampu menggapainya sendirian lalu meminta TUHAN untuk pegang kendali, maka disitu kuasa TUHAN bekerja. Itulah kenapa, proses scholarship pursuing yang panjang ini juga mengajarkan saya untuk selalu pray hard dan work hard. Bahkan ketika ternyata masih gagal, maka frase rejection means direction benar adanya.

***

Demikianlah tulisan ini dibuat berdasarkan kisah nyata.joel-osteen-quotes-22

Percayalah, ketika sebuah mimpi terasa begitu mencengkeram, pesonanya tidak pudar lekang waktu, selalu ada hasrat untuk mencoba lagi dan lagi, bisa jadi itulah mimpi yang Tuhan taruh di dalam hati kita.

Tak usah peduli ketika lingkungan bahkan semesta terlihat tidak setuju. There’s always a way for them who dream to be a blessing to others. (GD)

Advertisements

2 thoughts on “Lika-liku Scholarship Hunters: Berjodoh dengan Beasiswa LPDP, AAS atau Fulbright?

  1. Hampir serupa dg yang saya alami kak. Bedanya saya sudah di negara tujuan baru tau tentang kondisi tubuh dan dipulangkan ke Indonesia lagi. Overall, your story has motivated me to don’t give up with your condition. Thank You !

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s