GRE · motivational · study ABROAD

Membuktikan Pro dan Kontra Tes GRE

Sebagian orang pasti familiar dengan singkatan GRE, GMAT, SAT, LCAT, MCAT. Namun, mungkin segelintir belum tahu sama sekali. Bagi yang belum tahu, saya anjurkan untuk mencari tahu secara teperinci via search engines apabila Anda berminat melanjutkan studi di luar negeri, secara khusus Amerika Serikat dan sebagian negara di Eropa, UK serta Asia. Mengapa? karena singkatan di atas adalah bentuk tes yang disyaratkan (tidak selalu, tergantung jurusan) oleh institusi pendidikan dan lembaga professional di negara-negara terkait.

Sebagai salah satu persyaratan universitas tujuan, saya pun mengikuti serangkaian proses persiapan dan pelaksanaan tes GRE, sebuah tes yang dianggap seperti Suneung (ujian nasional versi Korea). Why Suneung? Jadi, sama seperti sebagian besar masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa UN adalah momok, begitu pula di Korea Selatan. Bahkan mereka lebih parah sebab ujian Suneung disana, secara harafiah, adalah penentu masa depan.

Kembali ke GRE, bagi para pejuang study abroad, GRE/GMAT/SAT dan semacamnya memang seperti momok karena terkesan susah. Kejadian yang dialami teman dari teman saya cukup menambah seramnya reputasi GRE, dkk. Ia dikabarkan muntah seusai menjalani tes GRE. Awalnya saya kira teman saya hanya bermajas .Ternyata muntah yang dimaksud benar benar evakuasi isi lambung secara paksa dan cepat hingga keluar dari mulut. Sebegitunya kah?

Tulisan ini sebenarnya bertujuan untuk mematahkan stigma, mitos dan teori tersebut. Pertama, izinkan saya menjelaskan definisi simple GRE dan GMAT. GRE dan GMAT adalah semacam TPA versi luar negeri, semacam SNMPTN/UMPTN, semacam tes yang ingin melihat kemampuan dasar akademis dari sisi matematika (quantitative) dan bahasa inggris (verbal) kandidat mahasiswa.

GRE lebih diperuntukkan kepada calon mahasiswa S2 dengan background terkait sains, teknik, kesehatan sementara GMAT lebih dikhususkan untuk calon mahasiswa (S2) business school. GRE dan GMAT kurang lebih sama. Namun kabar yang beredar, soal GRE fokus kepada kemampuan quantitative dimana (katanya) soal matematika yang disajikan lebih susah. Sementara, GMAT lebih verbal-oriented sehingga soal verbalnya lebih dewa (katanya). Benar tidaknya saya kurang tahu karena belum pernah mencoba tes GMAT.

Puji Tuhan, LPDP bekerjasama dengan EducationUSA memberikan saya free voucher untuk mengikuti tes (cuma-cuma) GRE. Privilege ini diberikan kepada Awardee yang berencana melanjutkan pendidikan di US. Meski gratis, tetap saja persiapan GRE bagi saya adalah persiapan yang mahal. Langkanya lembaga yang menyediakan kursus untuk tes GRE & GMAT di Indonesia, membuatnya semakin mahal. Ibarat GO, Primagama, SSC, saya akhirnya menemukan beberapa lembaga penyedia les GRE/GMAT yaitu Pascal, Kaplan, English Studio (lembaga informal di Pare) dan Infinity Education. Keempatnya berlokasi di Pulau Jawa, which means saya harus menambahkan biaya tiket pesawat antar pulau dan biaya akomodasi selama les dalam budget saya..

Singkat cerita, atas rekomendasi teman-teman PK, saya akhirnya menjatuhkan pilihan di Infinity Education (IE), Surabaya. Dari segi harga, IE termasuk yang paling terjangkau yaitu hanya sekitar 3,6 juta IDR untuk durasi 36 hours. Mari bandingkan dengan KAPLAN Edupac, Jakarta yang membandrol di kisaran 28 juta – 30 juta. Mahalnya biaya ini bisa jadi karena pengajarnya adalah native english speaker alias bule.

photo_2017-02-23_19-40-52Di IE saya diajar langsung oleh sang owner yaitu Pak Eko. Kemampuan beliau dalam mentransfer ilmu dan pelajaran masa SMA yang sudah lama menguap sejak 4-5 tahun lalu, harus saya acungi jempol. Saya bukan math genius sehingga perlu dibimbing dengan amat sabar. Private course bersama Pak Eko sangat menyenangkan karena di luar materi GRE, beliau juga sangat informative mengenai banyak hal terkait life as international student dan ekspatriat. Ya, beliau juga sempat menjadi kaum ekspatriat (kata ini lebih enak di baca daripada immigrant) disana karena pernah bekerja di NASA.

Sebagai alumni Northeastern University beliau pun pernah berkolaborasi dengan anak – anak MIT dan Harvard. Menariknya, saya mengetahui itu semua bukan dari beliau melainkan dari sekertaris dan foto foto yang di pajang di lobi ruangan. Mengetahui itu, keesokan harinya saat les bukannya belajar dan ngerjain soal, saya malah menginterogasi Pak Eko tentang pengalaman beliau di NASA  Jadi, jangan tanya soal kemampuan bahasa Inggris dan aksen beliau.

Masa tes pun tiba. Dari Surabaya saya terbang ke Jakarta. Saya mengikuti tes GRE di IIEF (Indonesian International Education Foundation) di Menara Imperium, Kuningan, Jaksel. Saya tiba paling pagi mengalahkan seluruh pegawai di IIEF that led me to wait approximately 20 minutes. I was standing in front of the IIEF door sampai akhirnya seorang Ibu-ibu kece, stylish, berwajah oriental datang menghampiri saya dan membukakan kode pintu dan akhirnya saya bisa duduk di dalam ruangan IIEF sambil menunggu tes dimulai.

Perlu diketahui proses pendaftaran tes GRE dilakukan via online.di website ETS. Dan pengalaman saya mengatakan semua prosesnya berjalan mulus. Saya akui ETS cukup professional dalam menyelenggarakan tes GRE ini. Begitu pula dengan IIEF. Sebelum tes berlangsung, semua barang bawaan harus disimpan di loker. Foto passport atau KTP benar-benar dicocokkan dengan wajah asli sang peserta. Cukup ketat dan serius tapi tetap santai.

Tes GRE menggunakan metode CBT dan tes berlangsung selama 4,5 jam non-stop (ada break 10 menit sih, boleh ambil, boleh tidak). Dulu, saya stress berat membayangkan durasi tes yang tampak tidak manusiawi. Ternyata, saat tes berlangsung, 4,5 jam sangat-sangat sebentar. Terbukti pada soal soal quantitative, saya banyak tertinggal alias tidak dijawab karena keburu time out. Sedih.

Hasil tes saya bisa dibilang standard, kurang memuaskan namun saya tetap bersyukur berhubung saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Dari pengalaman ini, saya melihat dan merasakan sebenarnya GRE / GMAT TIDAK serumit kelihatannya. Saya kalah dengan waktu. Saya juga tidak banyak latihan dengan tes simulasi GRE sehingga otak saya yang memang tidak biasa berhitung cepat layaknya murid sempoa, seringkali kelabakan saat dikejar waktu. Tapi percayalah bahwa soal quantitative  GRE tidak sulit. And let me remind you, I am not a math genius.

Perlu diketahui bahwa otak kita orang Indonesia sedari kecil sudah terbiasa dengan soal matematika yang lebih kompleks. Apalagi tes GRE memfasilitasi dengan kalkulator. Sudah seharusnya orang Asia atau Indonesia mampu mendongkrak nilai GRE pada bagian quantitative ini.

Mengenai soal verbal, hal ini lain cerita. Soal verbal GRE memang berisi bahasa Inggris planet. Bukan nakut-nakutin, terkadang orang bule pun sering tidak mengetahui artinya sebab diksi yang digunakan adalah diksi sastra. Oleh karena itu, curilah nilai sebanyak-banyaknya di bagian quantitative. Meski susah, hal ini tidak berlaku bagi beberapa teman saya yang berhasil menembus nilai di atas 160 untuk tes verbal. Salute!

Tes GRE justru membuat saya ketagihan untuk mencoba lagi. Gemas rasanya diperhadapkan dengan soal yang sebenarnya bisa dikerjakan namun terhalang oleh terbatasnya waktu. Jadi, sekali lagi, tes GRE/GMAT bukan tes yang sulit dikerjakan bagi orang Indonesia. Kita, orang Indonesia, sudah pernah menghadapi soal-soal matematika yang lebih rumit dari GRE. Dan point plus untuk mereka dari jurusan yang banyak berkutat di hitung-menghitung cepat saat kuliah karena akan lebih mudah menghadapi soal quantitative GRE/GMAT.

Tes ini membutuhkan strategi, trik dan latihan berkala. Sayang sekali biaya tes cukup mahal yaitu sekitar 2,6 juta, sehingga saya belum berniat untuk mencoba lagi.

Selamat mencoba GRE/GMAT! Anda pasti bisa mendapat score di atas ekspektasi 🙂 (GD)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s